Rabu, 13 Juli 2011

REPOSISI DALANG & WAYANG GOLEK MENGHADAPI MODERNISASI

A.    Sekilas Tentang Keberadaan Dalang dan Wayang

Menurut Sudarsono, tahun 1500 SM. adalah periode awal masa prasejarah pewayangan/pedalangan. Waktu itu nenek moyang kita sudah mengenal animisme dinamisme, artinya mereka percaya pada kekuatan gaib pada benda-benda seperti keris, jimat, dll.

Keberadaan dalang pada awalnya merupakan median (perantara) /tokoh yang menjembatani komunikasi antara orang yang masih hidup dengan roh-roh lelururnya, termasuk roh-roh pengganggu ketentraman manusia. Dari sinilah lahir tradisi “ngaruat” (upacara tolak bala) untuk menjaga agar manusia selalu aman dari gangguan roh-roh jahat yang mengganggu kehidupannya.
 
Sebagai alat untuk menyalurkan energi roh-roh halus tersebut, digunakanlah wayang yang berasal dari kata wa dan hyang, yang artinya tempat atau wadah bagi para leluhur. Di Jawa Tengah dikenal dengan Unduk (boneka kecil yang terbuat dari tanah atau logam) sedangkan di Bali dikenal dengan nama Pratima.
 
Perkembangan wayang di Jawa Barat cukup pesat, yang dapat kita kenali adalah wayang golek, wayang cepak atau wayang menak, dll. Dari sudut sastra, wayang golek adalah salah satu ragam karya sastra lisan di Jawa Barat, yang perkembangannya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, walaupun demikian wayang golek merupakan karya sastra lisan yang berkembang di Jawa Barat dan digemari oleh masyarakatnya. Selain itu wayang golek merupakan seni teater tradisional yang sudah cukup tua umurnya. Perkembangan wayang golek yang terus dialami sampai sekarang selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman.
 
Penampilan wayang golek didukung oleh berbagai seni, di antaranya seni tari, seni suara, seni musik, seni pahat yang diikat dalam satu kesatuan yang utuh menjadi karya seni drama trdisional.
Seperti halnya seni teater yang lain, wayang golek dikendalikan oleh sutradara yang tidak lain adalah dalang. Dalanglah pemberi jiwa atau ruh sehingga wayang golek bisa terlihat interaktif dan komunikatif. Di sinilah terlihat pergeseran fungsi dalang yang pada awalnya sebagai tokoh ritual supranatural beralih sebagai seorang sutradara dari sebuah pertunjukan.
 
Namun tetap menjadi catatan, bagi saudara-saudara kita di pedesaan tetap masih ada yang mempercayai bahwa dalang adalah tokoh ritual supranatural yang serba bisa yang bisa menjembatani alam sekarang dan alam masa lalu.
 
Dalam penampilannya wayang golek tidak didasari dengan adanya naskah atau skenario cerita yang akan ditampilkan. Jalan cerita seluruhnya merupakan kreatifitas dan improvisasi seorang dalang. Unsur yang paling khas pada wayang golek yaitu dalam menampilkan berbagai cerita selalu membawa misi pendidikan mengenai agama, filsafat kehidupan, dan hidup bermasyarakat (sosial).
 
Ada catatan yang menarik tentang dalang, Atja & Saleh Danasasmita, (1981) mengatakan bahwa hampir dapat dipastikan bahwa orang yang membawakan dongeng (juru cerita) itu adalah dalang.
 
Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yang ditulis tahun 1518 M, menyebutkan bahwa :
“Hayang nyaho disakweh ning carita ma, geus ma: Darmajati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakerma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama, Bimasora, Ranggalawe, Boma, Sumana, Kala Purbaka, Jarini, Tantri; sing sawatek carita ma memen tanya”.
“Jika ingin tahu semua cerita, seperti : Darmajati, Sanghyang Bayu, Jayasena, Sedamana, Pu Jayakerma, Ramayana, Adiparwa, Korawasrama, Bimasora, Ranggalawe, Boma, Sumana, Kala Purbaka, Jarini, Tantri; ya segala macam cerita, tanyalah dalang”.
 
Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Sunda mengenal kesenian wayang sudah cukup lama, seperti terbukti dengan disebutkannya beberapa judul cerita di atas.

B.    Redefinisi Dalang
  
Dalam buku Tuntunan Praktek Pedalangan Wayang Golek Purwa Gaya Sunda, yang disusun oleh Yoyo Rismayan W. (1981 : 1-2) dikatakan :

1.    Dalang asal kata dari dalung/blencong/lampu = alat penerang. Dengan alasan demikian, maka fungsi    dalang dalam masyarakat adalah sebagai juru penerangan, atau lebih tegasnya dalang adalah orang yang  memberi penerangan dan bimbingan bagi masyarakat yang tingkatan sosialnya beraneka ragam.

2.    Dalang berasal dari kata : dal adalah kependekan dari kata ngudal = mengucapkan; dan lang  kependekan dari kata piwulang = piwuruk = petuah/nasehat. Hal ini adalah mitologi rakyat. Dengan demikian dapat diartikan bahwa dalang adalah orang yang memberi nasehat/petuah. Di sini fungsi dalang adalah sebagai pendidik/pembimbing masyarakat atau guru masyarakat.

3.    Dalang berasal dari kata da = veda = pengetahuan dan lang = wulang. Dalang adalah pengetahuan mengajar, di sini dalang dapat diartikan sebagai guru masyarakat.

4.    Dalang berasal dari kata talang = alat penghubung untuk mengalirkan air. Dalam hal ini dalang bertugas sebagai penghubung/penyambung lidah, baik pesan dari pemerintah kepada masyarakat, maupun sebaliknya.

5.    Dalang adalah pemimpin, penyusun naskah, produser, juru cerita dan memainkan wayang. Pendapat ini dikemukakan oleh Claere Holt (seorang sarjana Barat) dalam bukunya : Art In Indonesia Continintees, and Change, 1960.

6.    Dalang adalah seniman pengembara, sebab apabila mengadakan pementasan tidak hanya di satu tempat, tapi berpindah-pindah. Menurut Drs. Sudarsono, pendapat ini dikemukakan oleh Hazou (seorang sarjana   Barat juga).

7.    Dalang berasal dari kata dal = dalil-dalil, dan lang = langgeng. Ini adalah pendapat seorang dalang kasepuhan dari Kecamatan Ciledug Kabupaten Cirebon, yang bernama Dulah. Dengan demikian dapat diartikan bahwa dalang adalah seorang yang memberi dalil-dalil atau petuah-petuah/wejangan/wejangan selama hidupnya. Di sini fungsi dalang adalah sebagai pendidik/pembimbing masyarakat atau guru masyarakat.

8.    Dalang adalah seorang aktor/aktris yang memainkan pagelaran wayangnya menurut ilmu dan tata cara yang telah ditentukan. Definisi ini dikemukakan oleh Juju Sain Martadinata, Alm. (eks Guru Kokar / SMKI Bandung).
 
Victoria (1987 : 6) mengatakan bahwa dalang adalah tokoh utama dalam semua bentuk teater wayang. Dalang merupakan penutur kisah, penyanyi lagu, yang mengajak memahami suasana pada saat tertentu, dan di atas segalanya itu, ia merupakan pemberi jiwa pada boneka atau pelaku-pelaku manusianya itu. Jadi dalang adalah seseorang yang bersifat ilmu atau penerangan melalui media wayang, dalam penampilannya tersebut diatur secara keseluruhan oleh dirinya sendiri.

Jadi dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalang adalah tokoh pemimpin yang harus memberi nasihat, petuah, bimbingan, dan penerangan kepada masyarakat. Dalang adalah tokoh yang memberikan jiwa bagi apa saja yang akan ia mainkan, entah itu wayang atau boneka.
 
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka penampilan wayang golek mempunyai arti yang cukup mendalam. Wayang golek bukanlah suatu hiburan pelepas lelah. Wayang golek bukan suatu karya seni yang bisa digarap oleh siapa saja. Wayang golek merupakan suatu karya seni yang bersifat membina dan mendidik.

C. Sebuah Catatan dari Pementasan Wayang Golek

Pada periode tahun 70-an untuk mencari hiburan oranglah yang harus mencari hiburan tersebut, ketika itu media hiburan seperti TV, VCD, DVD, masih sulit ditemui sehingga setiap ada upacara hajatan yang ada acara hiburannya selalu dipadati oleh penonton. Kondisi tersebut tidak berlaku lagi untuk masa sekarang. Media TV mengunjungi setiap rumah, baik itu di perkotaan ataupun di pedesaan, berbagai program pun disuguhkan sehingga bukan lagi orang yang mencari hiburan tetapi hiburanlah yang mencari massa. Hal tersebut dimanfaatkan pula oleh pelaku-pelaku bisnis yang profit orientid untuk mencari iklan.
  
Berbagai kepentingan pun muncul seiring kencangnya roda teknologi bergulir, hal-hal seperti itulah yang membuat seni tradisional semakin termarginalkan, kalah bersaing dengan TV, VCD, DVD, MP3, yang mungkin bagi generasi muda kini hal itu lebih praktis dan lebih menarik. Begitu juga dengan wayang golek, semakin hari semakin berkurang orang yang mengenalnya. Gejalanya bisa kita lihat dari beberapa contoh kasus dari semalam suntuk sebuah pertunjukan wayang golek umumnya didominasi oleh kaum tua. Kaum muda melihat pertunjukan hanya setengahnya. Bisakah kita bayangkan bagaimana kondisi wayang golek 10 - 20 tahun yang akan datang ?.
 
Banyak rombongan wayang golek yang sering tampil di media elektronik tetapi kurang mendapat sambutan yang hangat dari masyarakatnya yang notabene adalah masyarakat yang melahirkan seni tersebut. Berbagai faktor sering menjadi kambing hitam, seperti kurangnya pembinaan dari pemerintah, kurangnya dana pembinaan kurangnya daya dukung lingkungan dan masyarakat, termasuk masalah sumber daya manusia di kalangan pelaku seni wayang golek itu sendiri.


D.    Reposisi Dalang dan Wayang Golek Menghadapi Kekinian
 
Akan sangat sedih bila 10 – 20 tahun mendatang wayang golek musnah oleh seleksi alam seperti halnya dinosaurus jaman purba. Akankah kita berdiam diri ? Beberapa hal yang dapat kita lakukan di antaranya adalah :

1.    Kenali lingkungan kita dan masyarakat di dalamnya.
       
Dalam redefinisi dalang yang tadi diuraikan, fungsi dalang yang harus dijalankan adalah sebagai agent of  change (agen perubahan). Dalam kehidupan sosial, dalang dan wayanggolek mempunyai misi sosial yang cukup berat, ia harus mampu menghadirkan perubahan-perubahan sosial yang membawa tatanan baru bagi masyarakat pendukungnya, artinya bagi dalang dan kesenian wayang golek harus peka terhadap keadaan sekitarnya.
 
2.    Jalin kerjasama dengan pemerintah

3.    Tidak apriori terhadap teknologi (ciri-ciri masyarakat modern adalah selalu mencoba hal-hal yang baru, artinya kesenian wayang golek harus mampu mengembangkan kreatifitas dan ide-ide yang baru).
 
4.    Mengikuti perkembangan jaman dengan selalu membaca, mendengar, dan melihat situasi jaman.
  
Masih banyak faktor lain yang harus diperhatikan, namun pengalaman akan membuat hal tersebut menjadi berlainan pada masing-masing individu. Dari segi intern sebuah pementasan wayang golek, ada juga yang harus diperhatikan, yaitu :

1.    FAKTOR PENAMPILAN

-    Style personel menekankan pada performa personel, yang meliputi kerapihan berbusana dan sikap.
-    Style property yaitu boneka/wayang yang akan dimainkan diusahakan dalam keadaan rapih dan indah, susunan serta kondisi alat musik/gamelan terlihat rapih.
-    Style orator (dalang)
-    Style pagelaran meliputi penataan suara dan cahaya yang baik.

2.    FAKTOR KREATIFITAS
 
Kreatifitas sangat ditekankan dalam mendukung pagelaran wayang golek. Selain dalang (utama), wiyaga juga dituntut untuk terus melakukan proses kreatif, baik dalam pagelaran maupun di luar pagelaran. Hal ini penting untuk pengembangan inovasi baik dari cerita maupun musik. Seorang dalang yang kreatif, dalam sebuah pagelaran, ia akan terus mencari sesuatu hal yang baru untuk menambah wawasannya. Keuntungannya, wawasan dalang tersebut akan selalu bertambah dan sesuai dengan apresiasi yang terus berkembang di masyarakat, serta tidak akan kehilangan penggemar.
 
Wiyaga yang selalu melakukan proses kreatif akan membuat sebuah pagelaran menjadi semakin menarik. Hal ini terbukti pada beberapa lingkung seni yang terus melakukan inovasi musik, sehingga pagelaran yang ditampilkannya terasa indah dan meriah tanpa mengurangi makna dari pagelaran tersebut.

3.    ISI CERITA
 
Dalang yang baik yaitu dalang yang memiliki kepekaan terhadap keinginan masyarakat. Dalam sebuah pagelaran wayang golek, faktor lakon cerita yang dibawakan sangat berpengaruh terhadap suksesnya pagelaran, maksudnya lakon yang dibawakan harus aktual dan relevan dengan kondisi yang sedang berkembang, sehingga penonton akan merasa diberi informasi oleh dalang. Yang harus dijaga yaitu panyampaian lakon cerita jangan sampai membuat penonton jenuh atau bertanya-tanya sehingga pesan yang akan disampaikan oleh dalang tidak dapat diserap oleh penonton. Hal lainnya yang harus diperhatikan dalam pagelaran wayang golek yaitu :

a.    Komunikatif
Pada pelaksanaan pagelaran wayang golek, dalang harus senantiasa berkomunikasi dengan penonton, salah satunya yaitu melalui media tokoh wayang yang sedang diperankan. Maksud dari uraian di atas yaitu  untuk membangun suasana yang menghibur, menghindari kemonotonan, dan sebagai sarana komunikasi dua arah.

b.    Dramatisasi
Seorang dalang harus menguasai lakon cerita. Hal ini untuk mendukung proses pengadegan pada alur cerita, meliputi :

-    Pengaluran cerita
     Maksudnya seorang dalang dituntut kreatif untuk mengatur serta menyusun alur cerita, sebagai contoh dalam sebuah lakon cerita yang sama bisa dibuat dengan alur yang berbeda, sehingga akan lebih variatif, atau dengan menampilkan alur flash back agar lebih terasa dramatis.

-    Intonasi dan Artikulasi
     Pada jaman sekarang alat-alat pendukung suara (sound system) sudah berkembang, tetapi faktor utamanya selain didukung oleh alat bantu yang memadai, juga kelantangan dan kejelasan dalang dalam mengucapkan kata-kata dalam penyampaian cerita. Intonasi dan artikulasi sangat berpengaruh terhadap dramatisasi lakon yang sedang dibawakan.

-    Komedi/lawakan
    Jika lakon cerita hanya dibawakan secara serius, maka sebuah pagelaran wayang golek akan terasa monoton dan terkesan kurang menghibur. Alangkah baiknya dalam membawakan cerita, diselingi dengan unsur komedi agar pagelaran wayang golek terasa segar. Seorang dalang yang baik tentunya selain menghibur dengan suasana serius, juga memberikan lawakan-lawakan segar yang tidak terlepas dari norma-norma masyarakat.

-    Penyampaian Pesan
     Sesuai dengan fungsi dan tujuan dari pagelaran wayang golek, serta fungsi dari dalang itu sendiri bahwa dalang adalah seorang pemberi nasehat, sebagai guru masyarakat, sebagai penghubung/penyambung lidah baik pesan dari pemerintah kepada masyarakat maupun sebaliknya, pemberi petuah/dalil/wejangan, sebagai pembimbing/pendidik masyarakat, sebagai juru penerang bagi masyarakat, maka pada sebuah pagelaran wayang golek unsur-unsur tersebut tidak bisa dilepaskan. Pada pelaksanaannya seorang dalang dalam menyampaikan cerita diselingi oleh dakwah-dakwah keagamaan yang tujuannya mengingatkan serta mengajak penonton untuk selalu bertakwa serta berbuat kebajikan. Selain itu dalam penyampaian cerita diselingi oleh pesan-pesan baik pesan sosial kemasyarakatan, maupun pesan kenegaraan. Pesan yang disampaikan bisa terjadi timbal balik, baik pesan dari pemerintah kepada masyarakat maupun aspirasi masyarakat kepada pemerintah yang disampaikan melalui pagelaran wayang golek. 
Dalam penyampaian pesan ada yang patut diperhatikan, yaitu nilai dan norma yang berlaku di masyarakat (ingat pribahasa ciri sabumi cara sadesa).
 
Sebuah pagelaran wayang golek didukung oleh banyak personel pendukung. Oleh karena itu modal utama yang harus dimiliki yaitu skill, kedisiplinan, kekompakan, loyalitas, dan profesionalisme.  Jika hal tersebut telah tertanam pada individu-individu personel, maka sebuah pagelaran akan terlaksana sesuai dengan harapan.

E.    Penutup

How to Win the heart an the mind audience adalah kata kunci untuk sebuah rombongan wayang golek untuk menghadapi tantangan jaman.

 
DAFTAR PUSTAKA

Popenoe, David. 1992. Sociology
Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya Jakarta.
Djajakusumah, Gunawan, R. 1978. Pengenalan Wayang Golek Purwa di Jawa Barat. Bandung. Lembaga Kesenian Bandung.
Groenendael, Victoria M. Clara van. 1987. Dalang di Balik Wayang. Jakarta. Pustaka Utama Grafiti.
Ismunandar, R.M. 1985. Wayang Asal-Usul dan Jenisnya. Semarang. Dahara Prize.
Salmun, M.A. 1961. Padalangan. Jakarta.Dinas Penerbitan Balai Pustaka.

Tidak ada komentar: